gambar

Rabu, 02 Maret 2011

Tried It, Love It, and Make It Habits (Part 2)
(Motivasi Membangun Kebiasaan Menulis)
Oleh: Aan Widhi Atma


Mengutip apa yang disampaikan oleh Aristotle dalam buku 7 Habitsnya Stephen Covey “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan”.
Luar biasa makna kalimat tersebut. Tidak heran jika Thomas Alfa Edison dikenang hingga saat ini, bukan karena penemuannya, tetapi karena kebiasaan bangkit dari kegagalannyalah yang patut diacungkan jempol. Jangan terkesima dengan tendangan bebas David Beckham yang dahsyat itu, hal itu dikarenakan kebiasaannya menendang bola ke dalam ban mobil yang digantungkan di tengah gawang.
Lain halnya dengan kebiasaan penulis-penulis hebat. Ambil contoh, JK Rowling, dia mengatakan “Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam.” Andrias Harefa dalam bukunya "Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang" mengharuskan dirinya untuk menulis setiap hari sebanyak 1 halaman folio. Aa Gym mengkhususkan waktunya beberapa jam setiap hari untuk menulis.
Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk membentuk kebiasaan menulis, yang dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Kebiasaan  merupakan titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan (Stephen R. Covey, 1997). Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus mempunyai ketiga hal ini.  

Kebiasaan 1: Menuliskan apa yang Anda lihat, dengar, dan rasakan
Menulis merupakan ungkapan rasa syukur terhadap nikmat sehat yang diberikan oleh Allah swt kepada badan fisik kita. Cobalah lihat diri kita, mata bisa melihat dengan sempurna, telinga bisa mendengar dengan baik, dan hati bisa merasakan dengan jernih. Agar tulisan kita berbuah manfaat bagi orang lain maka gunakanlah nikmat tersebut untuk hal-hal yang baik pula.
Dalam teori dari mind mapping disebutkan bahwa apa yang kita tulis bersumber dari memori sensorik kita (Ingemar Svantesson, 2004). Ada beberapa macam memori:
Penglihatan - kita melihat apa yang kita lihat
Pendengaran - kita mengingat apa yang kita dengar
Kinestetik - kita mengingat gerakan dan perasaan
Persentuhan - kita mengingat apa yang kita sentuh dengan tangan
Pencicipan - kita mengingat kelezatan
Pembauan - kita mengingat bau harum dan bau busuk.

Sumber-sumber memori di atas merupakan bahan untuk tulisan yang tiada habisnya. Bayangkan, dalam satu hari saja kita melihat berbagai macam pernak-pernik kehidupan yang berbeda dari hari kemarin. Pertanyaannya, pernahkah kita mendokumentasikannya menjadi sebuah tulisan?
Mulailah menulis hal-hal yang dekat dengan diri Anda, kecil dan sederhana. Contoh, merangkum acara-acara televisi yang bermutu, film-film yang membangkitkan imajinasi dan motivasi, bahkan pertandingan yang menegangkan di lapangan.
           
Kebiasaan 2: Menuliskan apa yang Anda baca
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa menulis memerlukan seorang  saudara yang siap membantunya. Saudara menulis itu bernama membaca. Dr. Stephen D. Krashen dalam Hernowo(2004) mengatakan, “hanya dengan memperkaya diri kita dengan sebanyak-banyaknya katalah maka “bahan” yang sudah kita miliki itu dapat kita ungkapkan dengan bahasa tulis yang kaya dan indah pula” . Terdapat 2 kategori orang dalam hal membaca dan menulis.
Pertama, orang yang senang membaca dan senang menulis. Tipe ini, sudah menjadikan membaca dan menulis sebagai kesenangannya atau dengan kata lain dia telah menemukan AMBAKnya (Apa Manfaatnya Bagiku). Dengan mengetahui manfaat dari kegiatan membaca dan menulis maka akan memunculkan motivasi yang kuat untuk terus melakukannya.
Kedua, orang yang senang membaca tetapi  sulit menulis. Ciri khusus tipe ini adalah, memiliki literatur yang banyak, tetapi sulit menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Untuk diketahui bahwa menulis adalah pekerjaan hati bukan pikiran, semakin Anda memikirkan apa yang ditulis maka menulis menjadi hal yang sulit dalam benak Anda. Anda harus mengetahui teknik atau skill menulis, agar gampang memulainya. Kuncinya, segera mulai menggerakkan pena Anda di secarik kertas, tekan keyboard komputer Anda tanpa berpikir terlebih dahulu!
Apabila kita membaca teks, meskipun itu sebuah buku ataupun artikel pendek pada majalah, maka untuk membuat peta pembelajaran coba gunakan metode ini (Ingemar Svantesson, 2004):
 Pertama, melihat sekilas keseluruhan teks dengan sangat cepat untuk mendapatkan ide dari isi teks tersebut. Gunakan stabilo atau berilah garis bawah ketika anda membaca sekilas (skimming) teks tersebut dan tandailah kata-kata yang menurut Anda merupakan kata-kata penting. Tidak menjadi masalah apakah nantinya Anda akan memakai kata tersebut atau tidak. 
Kedua, mempersiapkan peta pembelajaran dengan menggambar atau menulis masalah utama atau sepasang cabang pokok. Tulislah beberapa kata/sub bagian, satu kata masing-masing garis. 
Ketiga,  tentukan mengapa Anda membaca teks tersebut. Maksud Anda membaca itu penting karena membatasi jumlah kata dan kata-kata mana yang Anda ambil sebagai kata-kata kunci. Apakah Anda membaca demi kepuasan, untuk belajar membuat ringkasan, atau membuat laporan untuk orang lain, atau apa tujuan Anda?         Bacalah terus seluruh teks dan tambahkanlah kata-kata kunci pada peta pembelajaran.  Tulis kembali peta pembelajaran Anda, dan putuskan apa yang dipertahankan dan mana yang akan di buang. Gunakan hanya kata-kata yang Anda perlukan untuk mengingat isi bacaan/teks.

Andrias Harefa dalam bukunya “Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial” memberikan tips membaca buku dengan super cepat:
·         Bacalah daftar isi dengan seksama
·         Pilihlah sub judul yang paling menarik minat Anda dan bacalah bagian tersebut lebih dulu
·         Bacalah bagian sebelah kiri dari setiap sub judul yang berisi kutipan, kata-kata hikmah, atau rangkuman ide utama sub judul yang bersangkutan. Bila Anda menjumpai hal yang belum jelas, bacalah seluruh artikel dalam subjudul tersebut.
·         Tandai kata-kata yang menarik dengan stabilo atau beri garis bawah dengan pena warna-warni.
·         Bacalah bagian-bagian sub judul yang kurang menarik minat Anda pada saat memiliki waktu senggang yang lebih panjang.

Kebiasaan 3: Membiasakan diri dengan Mind Mapping
            Metode mind mapping akan mempermudah kita untuk mengatur dan mengelompokkan ide-ide yang muncul dari pikiran kita. Intinya adalah menuliskan segala sesuatu tentang sebuah objek dalam secarik kertas, tanpa dipikir benar salahnya, ada kaitannya atau tidak, biarkan hati, pikiran dan tangan Anda mewujudkan kata-kata tersebut. Coba Anda fokus pada satu objek, kemudian lakukan langkah di bawah ini untuk memulai membuat peta tulisan Anda!
  1. Tulis (atau gambarkan) satu obyek di tengah-tengah selembar kertas. Tariklah satu garis dari titik itu, sebanyak Anda perlukan jika Ada menulis kata-kata, masing-masing satu garis.
  2. Tulis semua kata yang muncul dari benak Anda, meskipun kata-kata yang Anda pikirkan itu aneh dan tidak berkaitan! Tidak usah dibuat teratur, tulis saja kata-kata itu secara acak.
  3. Tuliskan kata-kata sebanyak mungkin, untuk menangkapnya dalam arus asosiasi yang cepat yang berkembang di kepala Anda.
  4. Jangan menyensor atau memilih kata-kata tertentu saja! Kata-kata aneh bisa saja merupakan satu-satunya yang memberi Anda ide yang terbaik nantinya.
  5. Jangan khawatir tentang di mana Anda menulis kata-kata tersebut. Biarkan asosiasi Anda mengalir secara bebas di atas kertas.
  6. Buatlah sebuah garis untuk masing-masing kata baru dan tambahkan sebanyak mungkin, apa pun katanya atau sekalipun Anda menuliskan kata-kata yang mempunyai arti sama. Kata-kata itulah yang akan memberi Anda sejumlah kata-kata yang benar-benar baru.
  7. Jangan menyerah! Setiap ketrampilan akan diperoleh pada waktunya sendiri dan memang butuh proses.

Sumber: Lewis & Harlow, e-Mind Maps

Perenungan Akhir

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
(Ali Bin Abi Thalib)

Anda sedang menulis skenario yang tidak mungkin ditulis oleh orang lain. Sebuah cerita yang berkobar dalam diri Anda adalah skenario yang “komersial”. Anda tidak menjadi penulis kelas dua di bawah siapa pun. Anda menjadi yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Anda memiliki satu hal yang layak jual sebagai seorang penulis-sudut pandang Anda. Sudut pandang Anda adalah sebuah cara unik untuk melihat dunia berdasarkan pengalaman Anda dan bagaimana Anda merasakan dunia seputar Anda.
(Viki King)

Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan
(Stephen King)

Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca
(Dr. Stephen D. Krashen)

Referensi

Andrias Harefa  (2001), Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial, Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Hernowo (2004), Quantum Writing, Mizan Learning Center, Bandung
Hernowo  (2005), Mengikat Makna Sehari-hari, Mizan Learning Center, Bandung
Ingemar Svantesson (2004), Learning Maps and Memory Skills, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Lewis & Harlow, E-Mind Maps, e-Learning Trainer & Developer Centre of Education Technology UCOL, Instructional Designer Centre for Learning Technologies Wintec
Stephen R. Covey (1997), Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, Binarupa Aksara, Jakarta Barat
Try it, Love it, and Make it Habits (Part 1) 
(Motivasi Membangun Kebiasaan Membaca)

Oleh: Aan Widhi Atma

“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang.
Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan” (Aristotle)

Luar biasa makna kalimat tersebut!  Tidak heran jika Thomas Alfa Edison dikenang hingga saat ini, bukan karena penemuannya, tetapi karena kebiasaan bangkit dari kegagalan yang patut diacungi jempol. Jangan terkesima dengan tendangan bebas David Beckham yang dahsyat itu, hal ini dikarenakan kebiasaannya menendang bola ke dalam ban mobil yang digantungkan di tengah gawang. Lain halnya dengan kebiasaan penulis hebat sekelas JK Rowling, dia mengatakan “Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh hingga sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam.”  Andrias Harefa, penulis buku best seller membiasakan dirinya menulis  sebanyak 1 halaman perhari, 7 halaman per minggu, selama 12 bulan.
Lantas, apa kaitannya antara kebiasaan dengan kegiatan membaca? Kebiasaan merupakan titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan motivasi (Covey, 1997). Pengetahuan (knowledge) adalah paradigma teoritis mengenai apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan (skill) adalah bagaimana melakukannya. Dan motivasi adalah keinginan untuk melakukan. Agar membaca bisa menjadi kebiasaan dalam hidup kita, maka kita harus mempunyai ketiga hal ini.
Sedangkan membaca adalah usaha mengolah bahan bacaan yang berupa simbol-simbol tulis yang berisi pesan-pesan penulis sehingga, untuk mengolah bahan tadi diperlukan sejumlah pengetahuan dan pengalaman tentang materi yang sesuai dengan bahan bacaan (Nurhadi, 1987).  Pengetahuan (knowledge) dikaitkan dengan pertanyaan “what do I know?” atau “apa yang saya ketahui”.  Pengetahuan dan pengalaman itu sebenarnya sudah ada pada diri kita, yang didapatkan dari lingkungan sehari-hari. Jadi semakin banyak pengetahuan kita terhadap obyek bacaan tertentu maka semakin besar pula motivasi kita untuk membaca.
Konon ceritanya, budaya membaca memang belum diwariskan secara maksimal oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Kita terbiasa mendengar dan belajar dari berbagai dongeng, kisah, adat istiadat yang secara verbal dikemukakan oleh orang tua, tokoh masyarakat dan penguasa zaman dulu. Anak-anak didongengi secara lisan, tidak ada pembelajaran secara tertulis, jadi tidak terbiasa memperoleh pengetahuan melalui bacaan. 
Hukum kebiasaan mengatakan bahwa perilaku seseorang diatur oleh kebiasaannya, dan jika tidak ada keputusan yang jelas dari dalam diri atau rangsangan dari luar, maka kita akan terus berperilaku sama. Kebiasaan inilah yang menyebabkan banyak orang tidak ingin berubah. Karena itulah pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk membentuk kebiasaan membaca (reading habbit), dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana.

Kebiasaan 1: Cari topik bacaan yang paling Anda sukai
Kecenderungan kita melakukan apa yang kita suka. Demikian juga dengan membaca, kita pasti menyenangi bacaan seputar hobi kita. Dan ternyata banyak orang sukses yang mengawali karirnya hidupnya dengan membaca topik-topik kesukaannya.
Dr. Stephen D. Krashen seorang doktor bidang linguistik di University of California Los Angeles (UCLA) mengenalkan teknik Membaca secara Bebas dan Sengaja (disingkat MBS atau free voluntary reading ([FVR]).  MBS berarti Anda menjalankan kegiatan membaca karena Anda memang menginginkannya. MBS berarti menyingkirkan buku yang tidak Anda sukai dan memilih yang bermanfaat dan disukai sebagai gantinya.

Kebiasaan 2: Pelajari ketrampilan (skill) membaca
Dalam ensiklopedi wikipedia disebutkan bahwa “skill is an ability, usually learned and acquired through training, to perform actions which achieve a desired outcome” (www.wikipedia.com), dengan kata lain skill adalah suatu kemampuan yang selalu dipelajari dan diperoleh melalui pelatihan, sehingga memunculkan tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Jadi, berdasarkan pengertian di atas, ketrampilan (skill) adalah sesuatu yang harus dipelajari. Setiap orang memiliki kemampuan (ability) membaca tetapi dibutuhkan ketrampilan yang lebih spesifik mengenai bidang membaca. Karena banyak yang beranggapan bahwa membaca adalah pekerjaan berat, terlebih lagi kalau membaca buku. Seakan-akan buku yang dibaca harus habis dilahap semuanya. Padahal jika kita tahu skill membaca buku yang efektif ternyata sangat mudah dan menyenangkan.
Andrias Harefa (2001) dalam bukunya “Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial” memberikan tips membaca buku dengan super cepat:
·         Bacalah daftar isi dengan seksama
·         Pilihlah sub judul yang paling menarik minat Anda dan bacalah bagian tersebut lebih dulu
·         Bacalah bagian sebelah kiri dari setiap sub judul yang berisi kutipan, kata-kata hikmah, atau rangkuman ide utama sub judul yang bersangkutan. Bila Anda menjumpai hal yang belum jelas, bacalah seluruh artikel dalam subjudul tersebut.
·         Tandai kata-kata yang menarik dengan stabilo atau beri garis bawah dengan pena warna-warni.
·         Bacalah bagian-bagian sub judul yang kurang menarik minat Anda pada saat memiliki waktu senggang yang lebih panjang.

Tidak bisa dipungkiri, saat ini kita dihadapkan dengan arus informasi yang tidak dapat dicegah. Lihat saja, jumlah buku, artikel, koran dan majalah baru yang terbit seperti tiada habisnya. Konsekuensinya, kita akan dicap “gagap informasi” jika tidak mau berurusan dengan informasi baru. Jadi? Cara yang paling bijak adalah terapkan skill membaca yang efektif. Dan mulailah melatih kebiasaan baru ini.

Kebiasaan 3: Tumbuhkan motivasi membaca sebanyak mungkin
Setiap orang memiliki motivasi membaca yang berbeda-beda.  Menurut Waples (1967) setidaknya ada lima faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kegiatan membaca:
1.      Mendapat alat tertentu (instrumental effect), yaitu membaca untuk tujuan memperoleh sesuatu yang bersifat praktis; misalnya cara membuat masakan, cara membuat topi, cara memperbaiki bola lampu, dan sebagainya.
2.      Mendapat hasil yang berupa prestise (prestige effect) yaitu membaca dengan tujuan ingin mendapat rasa lebih (self image) dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya. Misalnya, seseorang akan lebih bergengsi bila bacaannya majalah-majalah yang terbit di luar negeri.
3.      Memperkuat nilai-nilai pribadi atau keyakinan, misalnya membaca untuk mendapat kekuatan keyakinan pada partai politik yang kita anut, memperkuat keyakinan agama, mendapat nialai-nilai baru dari sebuah buku filsafat dan sebagainya.
4.      Mengganti pengalaman estetik yang sudah usang misalnya membaca untuk tujuan mendapat sensasi-sensasi baru melalui penikmatan emosional bahan bacaan (buku cerita, novel, roman, cerita pendek, cerita criminal, biografi tokoh terkenal dan sebagainya).
5.      Membaca untuk menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan atau penyakit tertentu.

Bisa jadi, beberapa faktor di atas merupakan kebutuhan kita, yang mau tidak mau dapat terpenuhi dengan cara membaca informasi dari buku maupun sumber lainnya.

Kebiasaan 4: Luangkan waktu ke perpustakaan atau toko buku
            Ada sebuah cerita menarik dari negara tetangga kita, Papua New Guinea. Ternyata budaya membaca masyarakat di sana tidak jauh berbeda dengan di Indonesia (masih tergolong rendah). Setelah disurvei, lebih mudah membawa buku ke masyarakat dibanding dengan mengajak mereka ke perpustakaan. Ada dua alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, keengganan masyarakat berkunjung ke perpustakaan dikarenakan belum menjadi budaya di setiap keluarga.  Kedua, mereka masih menganggap bahwa perpustakaan adalah tempat yang tidak nyaman, istilah mereka seperti alien space (tempat makhluk asing) sehingga sesegera mungkin bisa keluar dan tidak kembali lagi. Bagi mereka, perpustakaan tidak seperti tempat untuk istirahat karena dilarang makan makanan ringan (ngemil), merokok, apalagi berbicara dan tertawa sepuasnya. Sehingga perpustakaan ibarat penjara yang penuh dengan penjaga yang selalu mengintai gerak-gerik tamu yang berkunjung.
            Memang tidak mudah untuk meluangkan waktu ke perpustakaan, apalagi jika sarana dan prasarana masih belum lengkap. Maka, alternatif yang memungkinkan adalah toko buku. Karena disana lebih banyak pilihan yang ditawarkan selain buku, jadi terkesan tidak membosankan dan buku yang tersedia juga lebih beragam sesuai dengan usia dan disiplin ilmu.

Kebiasaan 5: Belajarlah dengan membaca
Menurut Gage (1984), belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Nah, yang jadi pertanyaan bisakah membaca membentuk suatu pengalaman, yang nantinya bisa mengubah perilaku seseorang bahkan suatu masyarakat? Agar lebih yakin, mari kita simak beberapa penelitian yang mendukung pendapat Gage.
Telah banyak penelitan yang menunjukkan bahwa jumlah bacaan tidak hanya berpengaruh pada prestasi membaca dan pencapaian bidang pendidikan, tetapi juga menambah pengetahuan umum (general knowledge) (Cunningham and Stanovich, 1997), ketrampilan social (social skills), dan partisipasi lingkungan (Guthrie, Schafer and Hutchinson, 1991).
Selain itu juga, membaca untuk kesenangan (reading enjoyment) atau membaca mandiri (independent reading), merupakan kontribusi terbesar dalam peningkatan prestasi membaca (Cox dan Guthrie, 2001). Penemuan yang sama oleh OECD Reading for Change studi (2002), menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan anak-anak bukan ditentukan oleh faktor sosial-ekonomi mereka tetapi lebih kepada kenikmatan kegiatan membaca (reading enjoyment) yang mereka alami.
Fakta menunjukkan, bahwa membaca sangat membantu anak-anak dalam peningkatan kemampuan kognitifnya, yakni melalui penambahan kosakata dan pengetahuan umum (general knowledge). Selain itu juga sebagai alat prediksi untuk mengetahui tingkat IQ dan ketrampilan menguraikan isi teks (textdecoding skills). (Cunningham and Stanovich, 1998).
Masih belum yakin juga bahwa dengan membaca kita bisa membangun perilaku masyarakat menjadi lebih baik? Berikut bukti lainya:
Ada suatu ungkapan yang menyatakan "Membaca adalah kunci keberhasilan di sekolah (Reading is the key to success in school). Ungkapan ini dibahas secara apik dalam buku "The World Book Student Handbook" (Chicago: World Book Encyclopedia, 1981). Dalam bab "Why is reading important" dibahas tentang sekelompok guru di Amerika Serikat yang mengadakan penyelidikan tentang murid sekolah dan problema belajar. Salah satu kesimpulan mereka yang menarik adalah jika murid yang senang membaca tidak berhasil dalam suatu mata pelajaran tertentu umpamanya matematika, maka ia masih bisa berhasil dalam bidang studinya yang lain. Tetapi tidak dengan murid yang malas membaca, hampir dipastikan ia tidak berhasil dalam semua bidang studinya.
Mula-mula mereka merasa agak aneh, namun setelah disimak lebih jauh, mereka menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang ingin diketahui dan dimengerti harus dibaca. Seorang pelajar yang sedikit membaca akan kesulitan dalam melanjutkan studinya, karena bila ia nanti menjadi mahasiswa hampir seluruh waktunya terserap untuk membaca. 
Dengan membaca kita dapat mempunyai pengetahuan, membantu kita bersosialisasi, mengasah imajinasi dan mendulang ketertarikan baru yang sebelumnya mungkin kita tidak pernah tahu.
Yakinlah! Kebiasaan membaca membawa manfaat besar bagi hidup kita. Ingat! Perkembangan zaman yang begitu cepat menginginkan agar kita tidak berhenti belajar setelah meninggalkan bangku sekolah. Penemuan-penemuan baru muncul tiap tahun, menambah pengetahuan manusia dan ikut merubah hidup kita. Mau tidak mau kita harus berusaha bukan saja mengikuti perubahan-perubahan itu, tetapi juga ikut memberikan kontribusi terhadap kemajuan manusia.
Penulis memberikan apresiasi yang tinggi pada beberapa komunitas peduli pendidikan, salah satunya adalah Rumah Baca Cerdas yang telah berupaya keras untuk membudayakan gemar membaca dengan mengadakan lomba membaca, menulis dan pameran fotografi yang merupakan agenda tahunan. Tentunya dengan kegiatan-kegiatan semacam ini sedikit banyak telah mendorong minat baca masyarakat khususnya generasi muda.  Sekali lagi kita berharap pada seluruh stake holder maupun pribadi-pribadi yang konsisten dalam pengembangan minat baca, mari bersama-sama bergerak memberikan secercah harapan guna membangun generasi mandiri, cerdas, kreatif yang nantinya menjadikan Indonesia sejajar bahkan jauh lebih baik diantara bangsa-bangsa di dunia. Semoga!

Daftar pustaka

Andrias Harefa, 2001. Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial. Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Andrias Harefa, 2002. Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cox, K.E. and Guthrie, J.T. 2001. Motivational and cognitive contributions to students’ amount of reading. Contemporary Educational Psychology, 26(1), 116-131.
Cunningham, A.E. & Stanovich, K.E. 1997. Early reading acquisition and its relation to reading experience and ability ten years later. Developmental Psychology, 33 (6), 934-945.
Cunningham, A.E. and Stanovich, K.E. 1998. What reading does for the mind. American Educator, 22 (1and2), 8-15.
Gage, N.L. and Berliner, D. C. 1984. Educational Psychology, third edition. Boston: Houhgton Mifflin.
Guthrie, J.T., Schafer, W.D. & Hutchinson, S.R. 1991. Relations of document literacy and prose literacy to occupational and societal characteristics of young black and white adults. Reading Research Quarterly, 26 (1), 30-48.
OECD 2002. Reading for change: Performance and engagement across countries. Results from PISA 2000. New York: Organisation for Economic Cooperation and Development.
Nurhadi, 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Penerbit C.V. SINAR BARU, Bandung.
Stephen R. Covey, 1997. The 7 Habits of highly Effective People. Binarupa Aksara, Jakarta