gambar

Rabu, 21 Agustus 2013

Sukai dan Kuasai


Sukai dan Kuasai


Menyukai selalu berawal dari yang kecil
Dan menguasai selalu bermula dari yang Anda Sukai
So,,sampaikan aja yang kita sukai dan kuasailah…!

Mulailah dengan mempelajari hal-hal kecil yang Anda sukai karena ia berkemungkinan besar untuk Anda kuasai. Dengan menyampaikan yang dikuasai terasa lebih gampang dan menyenangkan. Coba bayangkan, Anda diminta menjelaskan sesuatu yang Anda paling sukai? Saya jamin, Anda tidak akan melihat jam karena takut kehabisan materi.
Berhati-hatilah, karena dengan menyukai materi, maka Anda tidak pernah bosan untuk mencari literatur dan sulit lelah untuk mendalaminya. Anda akan menikmati proses pencarian itu sehingga tanpa terasa pemahaman Anda semakin bertambah. Dengan sendirinya Anda akan mencari orang yang expert dibidang itu dan mengajaknya berdiskusi lebih tajam.
Anda akan mencari tahu hal-hal yang belum diketahui dan mengkaji sesuatu yang belum tersajikan.  Tidak ada rasa minder walaupun Anda pemain baru di bidang itu. Hilang rasa takut karena Anda dikejar rasa penasaran yang hebat. Tak ketinggalan buku terbaru pun segera Anda buru dan ebook diinternetpun Anda download habis.
Setelah itu apa yang terjadi? Tanpa terasa, Anda sudah bisa membayangkan suasana forum sebelum ada di forum tersebut. Tidak hanya pertanyaan audiens yang sudah terekam di kepala Anda, tetapi jawabannya pun sudah menari-nari menanti tuk keluar.

Wow...luar biasa bukan?

Selasa, 06 Desember 2011

Public Speaking & Presentation Skill Angkatan 6 di Taliwang Berlangsung Meriah!


Bertempat di Aula Kantor Camat Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat, pelatihan Public Speaking & Presentation Skill berlangsung penuh audiens. Peserta training yang didominasi oleh mahasiswa Universitas Cordova tersebut menjadikan pelatihan semakin hidup. Tidak hanya mahasiswa, pelajar SMA dan SMK pun seakan tak ingin ketinggalan dalam training yang luar biasa ini. Terdapat juga karyawan Telkomsel yang ikut meramaikan. 

Sesi praktek langsung di hadapan audiens
Sesi praktek langsung berbicara di depan forum
Synergy Partner Training & Consulting, penyelenggara acara ini bekerja sama dengan pihak Telkomsel Cab. Taliwang menjadi sponsor utama. Pihak penyelenggara menargetkan akan melaksanakan training Public Speaking setiap tahunnya di Kota Taliwang. Selain itu juga di tahun 2012 akan diadakan training-training pengembangan diri lainnya seperti Leadership dan Entrepreneurship. 
 Peserta yang berjumlah 40 orang tersebut sangat antusias mengikuti materi training yang disampaikan oleh Aan Widhi Atma, MM, sekaligus Direktur Synergy Partner. "Acara kali ini full dengan praktek! Bisa dibilang 95% praktek! Hal ini untuk mendongkrak kepercayaan diri peserta agar tampil lebih berani" demikian ujar Aan.  
Penyampaian materi oleh Trainer, Aan Widhi Atma, MM

Suasana ice breaking yang menghidupkan 
Komentar peserta pun beragam. Menurut Zatil Aqmar, siswi SMA Al-Ikhlas, "Program ini bagus dalam peningkatan diri dan pengembangan SDM. Terusis terus untuk angkatan ke-7 dan selanjutnya". Irawati, mahasiswi Universitas Cordova mengatakan "Dengan mengikuti Public Speaking ini saya bisa menambah wawasan serta bagaimana cara berbicara dan presentasi di depan khalayak/orang banyak". Arifin Siregar - Mahasiswa STAIM berujar "Mengikuti training ini memberikan motivasi baru buat saya sendiri. Mendidik pribadi yang berani tampil di Publik dengan teknik berbicara yang baik dan benar!"
Alumni PS angkatan 6 sedang berpose bersama

Alumni PS angkatan 6 berfoto bersama



Minggu, 20 November 2011

DILARANG MENDAHULUI AUDIENS

Oleh: Aan Widhi Atma


“Pak...tolong dong saya jangan disuruh Kultum
Saya malu suara saya jelek...ntar temen-temen pada ngetawain...
Sungguh Pak...tolong bantu saya...”


“He..he...emangnya gue pikirin...” demikian hati kecil saya menjawab.

Kata-kata di atas adalah rintihan hati (hiks..) seorang peserta diklat kepada saya dikala yang bersangkutan menolak untuk tampil Kultum (kuliah tujuh menit) dihadapan rekan-rekannya. Saya mendesain sesi “Kultum On Public Speaking” di acara Diklat Prajabatan CPNS untuk melatih kemampuan berbicara para peserta diklat.

Setiap peserta diwajibkan untuk menyampaikan kultum dengan materi bebas, yang penting ada tarikan nilai-nilai keagamaan. Mas Yasir, demikian panggilannya, sangat takut untuk tampil, dikarenakan vokal suaranya yang agak aneh bila terdengar (itu sih...kata dia).

Entah bagaimana dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa audiens akan tertawa jika mendengar suaranya. Dia menjadi sangat takut jika itu terjadi. Dia tidak ingin dipermalukan dalam forum diklat tersebut. Sampai-sampai setiap bertemu dengan saya Mas Yasir selalu memohon untuk boleh tidak tampil. Saya juga ingat dia pernah berkata “ Pak Aan,  tidur saya tidak tenang selama diklat ini karena  selalu memikirkan Kultum”.
Kemudian saya bertanya kepada Pak Yasir “Apakah mereka mengenal Bapak sebelumnya?  Tidak”, jawabnya. Lantas bagaimana bisa menyimpulkan suara Bapak tidak bagus? Itu hanya perasaan saya saja Pak, ujarnya”.
Akhirnya saya beri motivasi agar tetap mempersiapkan diri untuk tampil sampai saatnya tiba. Ketakutan itu akan terus terjadi sampai kita akan bertarung langsung dengannya. Sahabat saya pernah bilang “masuki ketakutanmu”. Kalau kita takut ular maka seringlah lihat ular di kebun binatang atau di TV. Kalau takut ketinggian maka seringlah naik pesawat (mahal bro...) atau traveling di bukit-bukit.

Pembaca, coba Anda cermati cerita di atas...
Betapa tersiksanya seseorang yang mendahulukan “kejadian buruk” akan menimpa dirinya padahal belum tentu terjadi?
Betapa berdosanya kita, karena telah berprasangka buruk kepada orang lain yang bisa jadi mendukung kita saat tampil?
Betapa kita mengkerdilkan diri kita tanpa melalui proses evaluasi yang benar?

Bukankah Tuhan akan marah jika kita mendahulukan prasangka buruk?

So,,,jangan mendahului audiens. Jangan berpikir buruk tentang mereka. Jangan menganggab diri Anda kecil di hadapan mereka. Menilai diri harus berdasarkan pengalaman yang lalu.

(*akhirnya, saya sedikit memaksa Pak Yasir untuk tampil Kultum, padahal saat itu bukan gilirannya. Pak Yasir sempat menolak untuk menundanya 2 hari ke depan, namun saya tetap memaksanya... Anda penasaran apa yang terjadi...?Dengan keterpaksaan itulah beliau tampil memukau,,,luar biasa! Temen-temennya pun memberi applause... Saya pun tersenyum...!...)

Sukses buat Prajab Golongan III Angkatan IV tahun 2011 Kab. Sumbawa Barat-NTB

Rabu, 16 November 2011

Setali Tiga Uang
(Smile, Eye Contact, Blocking)
Oleh: Aan Widhi Atma



Pandangi sambil tersenyum
Dekati sambil menyapa
Lalu…perhatikan apa yang terjadi!

Kayaknya kalimat yang terakhir sering terdengar deh…(he…he...)

Sudah menjadi role of the game bahwa untuk mendapat perhatian yang baik dari Audiens maka seorang pembicara harus mendahulukan sikap Proaktif.  Tidak terlalu sulit, tetapi juga tidak sesederhana prakteknya. Banyak pembicara yang mengabaikan hal ini sehingga menghilangkan kesempatan meraih hati Audiens.

Smile
Anda harus melempar senyum dahulu kepada Audiens. Pernah memperhatikan sosok Andi Malarangeng? Perhatikan seni bicaranya saat diwawancarai pers, diskusi di Talk Show, hingga memberi laporan yang sifatnya genting saat menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Selain kumis, ada satu ciri khas Andi yang sulit dilupakan. Apa itu? Ya, tentu saja, kekuatan senyumnya membuat setiap yang melihat dan mendengar informasi darinya menjadi nyaman dan tidak tegang. Serta, kehadiran kumis lebatnya pun menjadikannya terlihat manis. Ingat! Bagi Anda yang berkumis tebal seringlah tersenyum saat menyampaikan materi. Berikut tips senyum untuk Anda:
}  Seringlah melihat senyum Anda di cermin.
Ini penting untuk mengukur apakah senyum Anda sudah manis terlihat atau sebaliknya.
}  Senyum yang baik adalah rata kiri dan kanan.
Perhatikan apakah senyum anda sudah simetris?  
}  Saat memulai forum, lemparkan senyum Anda ke Audiens, dan perhatikan, pasti audiens membalas senyum Anda !

Eye Contact
 Berhati-hatilah karena pandangan mata mewakili kejujuran hati dan salah satu cara mendeteksi kebohongan adalah dengan gerakan mata. Saya sering merasakan saat menyampaikan materi yang kurang saya pahami maka ada gerakan mata ke arah kanan atas yang menandakan otak saya sedang mencari database informasi tersebut. Berikut tips eye contact saat memulai berbicara:
}  Hindari menatap INTIM kepada audiens.
Silakan nonton sinetron Indonesia, maka Anda akan tahu bagaimana menatap intim tersebut.
}  Hindari melihat satu bagian tubuh saja.
Ini penting, agar audiens yang Anda lihat tidak merasa risih atau curiga. Coba bayangkan jika Anda yang dipandangi teling saja, hidung saja, rambut saja oleh orang lain, risih bukan?
}  Tataplah tiap audiens dengan senyum maksimal 2 detik, jangan lama-lama kemudian berganti ke audiens yang lain.
Perpaduan senyum sambil memandang merupakan awal yang baik untuk menguasai panggung.

 Blocking
            Berjalan mendekati Audiens adalah cara untuk mengakrabkan diri serta membuka pintu interaksi seluas mungkin. Kalau Anda penggemar acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV, perhatikan Blocking Skill  Pak Mario yang sangat variatif. Dia berjalan mengelilingi arena seminar, sesekali mendekati audiens hingga sampai menyentuh pundak mereka dan bertanya langsung face to face, heart to heart, lalu perhatikan apa yang terjadi…!  
    Menguasai Panggung
Oleh: Aan Widhi Atma


Jika anda sudah naik panggung maka
jangan pernah sekali-kali terpikir untuk turun panggung.
 Lanjutkan saja apapun kondisi hati, pikiran dan body Anda saat itu!


Judul ini agak sedikit narsis, terkesan sombong tapi biarlah dari pada harus turun panggung (he…he...)

Panggung adalah wilayah yang menjadi hak seorang pembicara. Panggung adalah area kekuasaan Anda. Anda dibolehkan melakukan apapun untuk memikat audiens. Pilihannya cuman 2 ! Menguasai atau dikuasai panggung. Kalau Anda menguasai panggung di awal sesi maka 90% keberhasilan sudah di tangan tetapi kalau sebaliknya, panggung yang mendikte diri Anda maka berhati-hatilah gejala demam panggung akan terus mengikuti Anda.
Jikalau Anda di panggung tiba-tiba sangat gugup, lupa kata-kata, gemetaran tiada henti, coba tenang sebentar – tarik nafas dalam-dalam dan lanjutkan kembali walaupun dengan kalimat yang tak tersusun rapi, alur yang gak nyambung, vocal tanpa intonasi, yang penting kuncinya “JANGAN PERNAH TURUN PANGGUNG!”.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa menguasai panggung?

Anda harus nyaman dengan tempat Anda berbicara
Bersyukur sekali jika kita bisa datang ke lokasi sebelum acara berlangsung. Anda bisa berdiri ditengah podium, mengelilingi bangku-bangku peserta, mengukur seberapa kuat teriakan Anda hingga mengecek sound system yang ada.
Namun, kalau tidak ada waktu, maka segera kontak panitia dan minta mereka untuk menceritakan secara detail tentang lokasinya, jumlah peserta, background audiens, dll. Dengan demikian Anda sudah bisa memvisualisasikan kondisinya tanpa harus melihatnya langsung.

Anda harus nyaman berada ditengah-tengah Audiens
Mulai sekarang, Anda harus mengakrabkan diri dengan segala jenis wajah apapun. Mengapa tolok ukurnya wajah? Kerap kali suasana hati kita dipengaruhi oleh wajah audiens. Saya sering diresahkan dengan wajah peserta yang tidak pernah senyum sejak awal hingga pertengahan training, namun diakhir sesi dia yang paling antusias untuk berdiskusi. Ternyata pembawaan facenya memang begitu tidak bisa diubah. Harap maklum..he..he..

Audiens pun harus nyaman dengan kehadiran Anda.
Mungkin Anda pernah merasakan saat mengikuti training atau seminar, dikala pembicara memasuki ruangan, padahal belum sempat berbicara, kita sudah merasa nyaman terlebih dahulu? Mengapa bisa demikian? Saya beritahu rahasianya, pertama, pembicara tersebut sudah mengedifikasi dirinya dengan sempurna melalui brosur, iklan dan media publikasi lainnya, sehingga kita sudah terhipnotis duluan. Kedua, menyapa dengan senyuman tulus dan pakaian yang rapi (menggunakan jas dan dasi). Mengapa tampilan luar begitu penting? Karena itulah cara kita menghargai Audiens. Tidak mungkin di forum yang resmi kita memakai baju kaos lengkap dengan sandal pantai, atau memakai kaca mata hitam plus celana pendek. Oleh karena itu hargai forum tempat Anda berbicara. Senyum tulus juga berperan penting untuk menyapa lewat hati. Dengan cara itu,  Anda sudah menempatkan hati mereka pada posisi ueeeenak…

Rabu, 02 Maret 2011

Tried It, Love It, and Make It Habits (Part 2)
(Motivasi Membangun Kebiasaan Menulis)
Oleh: Aan Widhi Atma


Mengutip apa yang disampaikan oleh Aristotle dalam buku 7 Habitsnya Stephen Covey “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan”.
Luar biasa makna kalimat tersebut. Tidak heran jika Thomas Alfa Edison dikenang hingga saat ini, bukan karena penemuannya, tetapi karena kebiasaan bangkit dari kegagalannyalah yang patut diacungkan jempol. Jangan terkesima dengan tendangan bebas David Beckham yang dahsyat itu, hal itu dikarenakan kebiasaannya menendang bola ke dalam ban mobil yang digantungkan di tengah gawang.
Lain halnya dengan kebiasaan penulis-penulis hebat. Ambil contoh, JK Rowling, dia mengatakan “Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam.” Andrias Harefa dalam bukunya "Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang" mengharuskan dirinya untuk menulis setiap hari sebanyak 1 halaman folio. Aa Gym mengkhususkan waktunya beberapa jam setiap hari untuk menulis.
Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk membentuk kebiasaan menulis, yang dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Kebiasaan  merupakan titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan (Stephen R. Covey, 1997). Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus mempunyai ketiga hal ini.  

Kebiasaan 1: Menuliskan apa yang Anda lihat, dengar, dan rasakan
Menulis merupakan ungkapan rasa syukur terhadap nikmat sehat yang diberikan oleh Allah swt kepada badan fisik kita. Cobalah lihat diri kita, mata bisa melihat dengan sempurna, telinga bisa mendengar dengan baik, dan hati bisa merasakan dengan jernih. Agar tulisan kita berbuah manfaat bagi orang lain maka gunakanlah nikmat tersebut untuk hal-hal yang baik pula.
Dalam teori dari mind mapping disebutkan bahwa apa yang kita tulis bersumber dari memori sensorik kita (Ingemar Svantesson, 2004). Ada beberapa macam memori:
Penglihatan - kita melihat apa yang kita lihat
Pendengaran - kita mengingat apa yang kita dengar
Kinestetik - kita mengingat gerakan dan perasaan
Persentuhan - kita mengingat apa yang kita sentuh dengan tangan
Pencicipan - kita mengingat kelezatan
Pembauan - kita mengingat bau harum dan bau busuk.

Sumber-sumber memori di atas merupakan bahan untuk tulisan yang tiada habisnya. Bayangkan, dalam satu hari saja kita melihat berbagai macam pernak-pernik kehidupan yang berbeda dari hari kemarin. Pertanyaannya, pernahkah kita mendokumentasikannya menjadi sebuah tulisan?
Mulailah menulis hal-hal yang dekat dengan diri Anda, kecil dan sederhana. Contoh, merangkum acara-acara televisi yang bermutu, film-film yang membangkitkan imajinasi dan motivasi, bahkan pertandingan yang menegangkan di lapangan.
           
Kebiasaan 2: Menuliskan apa yang Anda baca
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa menulis memerlukan seorang  saudara yang siap membantunya. Saudara menulis itu bernama membaca. Dr. Stephen D. Krashen dalam Hernowo(2004) mengatakan, “hanya dengan memperkaya diri kita dengan sebanyak-banyaknya katalah maka “bahan” yang sudah kita miliki itu dapat kita ungkapkan dengan bahasa tulis yang kaya dan indah pula” . Terdapat 2 kategori orang dalam hal membaca dan menulis.
Pertama, orang yang senang membaca dan senang menulis. Tipe ini, sudah menjadikan membaca dan menulis sebagai kesenangannya atau dengan kata lain dia telah menemukan AMBAKnya (Apa Manfaatnya Bagiku). Dengan mengetahui manfaat dari kegiatan membaca dan menulis maka akan memunculkan motivasi yang kuat untuk terus melakukannya.
Kedua, orang yang senang membaca tetapi  sulit menulis. Ciri khusus tipe ini adalah, memiliki literatur yang banyak, tetapi sulit menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Untuk diketahui bahwa menulis adalah pekerjaan hati bukan pikiran, semakin Anda memikirkan apa yang ditulis maka menulis menjadi hal yang sulit dalam benak Anda. Anda harus mengetahui teknik atau skill menulis, agar gampang memulainya. Kuncinya, segera mulai menggerakkan pena Anda di secarik kertas, tekan keyboard komputer Anda tanpa berpikir terlebih dahulu!
Apabila kita membaca teks, meskipun itu sebuah buku ataupun artikel pendek pada majalah, maka untuk membuat peta pembelajaran coba gunakan metode ini (Ingemar Svantesson, 2004):
 Pertama, melihat sekilas keseluruhan teks dengan sangat cepat untuk mendapatkan ide dari isi teks tersebut. Gunakan stabilo atau berilah garis bawah ketika anda membaca sekilas (skimming) teks tersebut dan tandailah kata-kata yang menurut Anda merupakan kata-kata penting. Tidak menjadi masalah apakah nantinya Anda akan memakai kata tersebut atau tidak. 
Kedua, mempersiapkan peta pembelajaran dengan menggambar atau menulis masalah utama atau sepasang cabang pokok. Tulislah beberapa kata/sub bagian, satu kata masing-masing garis. 
Ketiga,  tentukan mengapa Anda membaca teks tersebut. Maksud Anda membaca itu penting karena membatasi jumlah kata dan kata-kata mana yang Anda ambil sebagai kata-kata kunci. Apakah Anda membaca demi kepuasan, untuk belajar membuat ringkasan, atau membuat laporan untuk orang lain, atau apa tujuan Anda?         Bacalah terus seluruh teks dan tambahkanlah kata-kata kunci pada peta pembelajaran.  Tulis kembali peta pembelajaran Anda, dan putuskan apa yang dipertahankan dan mana yang akan di buang. Gunakan hanya kata-kata yang Anda perlukan untuk mengingat isi bacaan/teks.

Andrias Harefa dalam bukunya “Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial” memberikan tips membaca buku dengan super cepat:
·         Bacalah daftar isi dengan seksama
·         Pilihlah sub judul yang paling menarik minat Anda dan bacalah bagian tersebut lebih dulu
·         Bacalah bagian sebelah kiri dari setiap sub judul yang berisi kutipan, kata-kata hikmah, atau rangkuman ide utama sub judul yang bersangkutan. Bila Anda menjumpai hal yang belum jelas, bacalah seluruh artikel dalam subjudul tersebut.
·         Tandai kata-kata yang menarik dengan stabilo atau beri garis bawah dengan pena warna-warni.
·         Bacalah bagian-bagian sub judul yang kurang menarik minat Anda pada saat memiliki waktu senggang yang lebih panjang.

Kebiasaan 3: Membiasakan diri dengan Mind Mapping
            Metode mind mapping akan mempermudah kita untuk mengatur dan mengelompokkan ide-ide yang muncul dari pikiran kita. Intinya adalah menuliskan segala sesuatu tentang sebuah objek dalam secarik kertas, tanpa dipikir benar salahnya, ada kaitannya atau tidak, biarkan hati, pikiran dan tangan Anda mewujudkan kata-kata tersebut. Coba Anda fokus pada satu objek, kemudian lakukan langkah di bawah ini untuk memulai membuat peta tulisan Anda!
  1. Tulis (atau gambarkan) satu obyek di tengah-tengah selembar kertas. Tariklah satu garis dari titik itu, sebanyak Anda perlukan jika Ada menulis kata-kata, masing-masing satu garis.
  2. Tulis semua kata yang muncul dari benak Anda, meskipun kata-kata yang Anda pikirkan itu aneh dan tidak berkaitan! Tidak usah dibuat teratur, tulis saja kata-kata itu secara acak.
  3. Tuliskan kata-kata sebanyak mungkin, untuk menangkapnya dalam arus asosiasi yang cepat yang berkembang di kepala Anda.
  4. Jangan menyensor atau memilih kata-kata tertentu saja! Kata-kata aneh bisa saja merupakan satu-satunya yang memberi Anda ide yang terbaik nantinya.
  5. Jangan khawatir tentang di mana Anda menulis kata-kata tersebut. Biarkan asosiasi Anda mengalir secara bebas di atas kertas.
  6. Buatlah sebuah garis untuk masing-masing kata baru dan tambahkan sebanyak mungkin, apa pun katanya atau sekalipun Anda menuliskan kata-kata yang mempunyai arti sama. Kata-kata itulah yang akan memberi Anda sejumlah kata-kata yang benar-benar baru.
  7. Jangan menyerah! Setiap ketrampilan akan diperoleh pada waktunya sendiri dan memang butuh proses.

Sumber: Lewis & Harlow, e-Mind Maps

Perenungan Akhir

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
(Ali Bin Abi Thalib)

Anda sedang menulis skenario yang tidak mungkin ditulis oleh orang lain. Sebuah cerita yang berkobar dalam diri Anda adalah skenario yang “komersial”. Anda tidak menjadi penulis kelas dua di bawah siapa pun. Anda menjadi yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Anda memiliki satu hal yang layak jual sebagai seorang penulis-sudut pandang Anda. Sudut pandang Anda adalah sebuah cara unik untuk melihat dunia berdasarkan pengalaman Anda dan bagaimana Anda merasakan dunia seputar Anda.
(Viki King)

Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan
(Stephen King)

Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca
(Dr. Stephen D. Krashen)

Referensi

Andrias Harefa  (2001), Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial, Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Hernowo (2004), Quantum Writing, Mizan Learning Center, Bandung
Hernowo  (2005), Mengikat Makna Sehari-hari, Mizan Learning Center, Bandung
Ingemar Svantesson (2004), Learning Maps and Memory Skills, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Lewis & Harlow, E-Mind Maps, e-Learning Trainer & Developer Centre of Education Technology UCOL, Instructional Designer Centre for Learning Technologies Wintec
Stephen R. Covey (1997), Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, Binarupa Aksara, Jakarta Barat