DILARANG MENDAHULUI AUDIENS
Oleh: Aan Widhi Atma
“Pak...tolong dong saya jangan disuruh Kultum
Saya malu suara saya jelek...ntar temen-temen pada ngetawain...
Sungguh Pak...tolong bantu saya...”
“He..he...emangnya gue pikirin...” demikian hati kecil saya menjawab.
Kata-kata di atas adalah rintihan hati (hiks..) seorang peserta diklat kepada saya dikala yang bersangkutan menolak untuk tampil Kultum (kuliah tujuh menit) dihadapan rekan-rekannya. Saya mendesain sesi “Kultum On Public Speaking” di acara Diklat Prajabatan CPNS untuk melatih kemampuan berbicara para peserta diklat.
Setiap peserta diwajibkan untuk menyampaikan kultum dengan materi bebas, yang penting ada tarikan nilai-nilai keagamaan. Mas Yasir, demikian panggilannya, sangat takut untuk tampil, dikarenakan vokal suaranya yang agak aneh bila terdengar (itu sih...kata dia).
Entah bagaimana dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa audiens akan tertawa jika mendengar suaranya. Dia menjadi sangat takut jika itu terjadi. Dia tidak ingin dipermalukan dalam forum diklat tersebut. Sampai-sampai setiap bertemu dengan saya Mas Yasir selalu memohon untuk boleh tidak tampil. Saya juga ingat dia pernah berkata “ Pak Aan, tidur saya tidak tenang selama diklat ini karena selalu memikirkan Kultum”.
Kemudian saya bertanya kepada Pak Yasir “Apakah mereka mengenal Bapak sebelumnya? Tidak”, jawabnya. Lantas bagaimana bisa menyimpulkan suara Bapak tidak bagus? Itu hanya perasaan saya saja Pak, ujarnya”.
Akhirnya saya beri motivasi agar tetap mempersiapkan diri untuk tampil sampai saatnya tiba. Ketakutan itu akan terus terjadi sampai kita akan bertarung langsung dengannya. Sahabat saya pernah bilang “masuki ketakutanmu”. Kalau kita takut ular maka seringlah lihat ular di kebun binatang atau di TV. Kalau takut ketinggian maka seringlah naik pesawat (mahal bro...) atau traveling di bukit-bukit.
Pembaca, coba Anda cermati cerita di atas...
Betapa tersiksanya seseorang yang mendahulukan “kejadian buruk” akan menimpa dirinya padahal belum tentu terjadi?
Betapa berdosanya kita, karena telah berprasangka buruk kepada orang lain yang bisa jadi mendukung kita saat tampil?
Betapa kita mengkerdilkan diri kita tanpa melalui proses evaluasi yang benar?
Bukankah Tuhan akan marah jika kita mendahulukan prasangka buruk?
So,,,jangan mendahului audiens. Jangan berpikir buruk tentang mereka. Jangan menganggab diri Anda kecil di hadapan mereka. Menilai diri harus berdasarkan pengalaman yang lalu.
(*akhirnya, saya sedikit memaksa Pak Yasir untuk tampil Kultum, padahal saat itu bukan gilirannya. Pak Yasir sempat menolak untuk menundanya 2 hari ke depan, namun saya tetap memaksanya... Anda penasaran apa yang terjadi...?Dengan keterpaksaan itulah beliau tampil memukau,,,luar biasa! Temen-temennya pun memberi applause... Saya pun tersenyum...!...)
Sukses buat Prajab Golongan III Angkatan IV tahun 2011 Kab. Sumbawa Barat-NTB


