gambar

Minggu, 20 November 2011

DILARANG MENDAHULUI AUDIENS

Oleh: Aan Widhi Atma


“Pak...tolong dong saya jangan disuruh Kultum
Saya malu suara saya jelek...ntar temen-temen pada ngetawain...
Sungguh Pak...tolong bantu saya...”


“He..he...emangnya gue pikirin...” demikian hati kecil saya menjawab.

Kata-kata di atas adalah rintihan hati (hiks..) seorang peserta diklat kepada saya dikala yang bersangkutan menolak untuk tampil Kultum (kuliah tujuh menit) dihadapan rekan-rekannya. Saya mendesain sesi “Kultum On Public Speaking” di acara Diklat Prajabatan CPNS untuk melatih kemampuan berbicara para peserta diklat.

Setiap peserta diwajibkan untuk menyampaikan kultum dengan materi bebas, yang penting ada tarikan nilai-nilai keagamaan. Mas Yasir, demikian panggilannya, sangat takut untuk tampil, dikarenakan vokal suaranya yang agak aneh bila terdengar (itu sih...kata dia).

Entah bagaimana dia bisa menyimpulkan sendiri bahwa audiens akan tertawa jika mendengar suaranya. Dia menjadi sangat takut jika itu terjadi. Dia tidak ingin dipermalukan dalam forum diklat tersebut. Sampai-sampai setiap bertemu dengan saya Mas Yasir selalu memohon untuk boleh tidak tampil. Saya juga ingat dia pernah berkata “ Pak Aan,  tidur saya tidak tenang selama diklat ini karena  selalu memikirkan Kultum”.
Kemudian saya bertanya kepada Pak Yasir “Apakah mereka mengenal Bapak sebelumnya?  Tidak”, jawabnya. Lantas bagaimana bisa menyimpulkan suara Bapak tidak bagus? Itu hanya perasaan saya saja Pak, ujarnya”.
Akhirnya saya beri motivasi agar tetap mempersiapkan diri untuk tampil sampai saatnya tiba. Ketakutan itu akan terus terjadi sampai kita akan bertarung langsung dengannya. Sahabat saya pernah bilang “masuki ketakutanmu”. Kalau kita takut ular maka seringlah lihat ular di kebun binatang atau di TV. Kalau takut ketinggian maka seringlah naik pesawat (mahal bro...) atau traveling di bukit-bukit.

Pembaca, coba Anda cermati cerita di atas...
Betapa tersiksanya seseorang yang mendahulukan “kejadian buruk” akan menimpa dirinya padahal belum tentu terjadi?
Betapa berdosanya kita, karena telah berprasangka buruk kepada orang lain yang bisa jadi mendukung kita saat tampil?
Betapa kita mengkerdilkan diri kita tanpa melalui proses evaluasi yang benar?

Bukankah Tuhan akan marah jika kita mendahulukan prasangka buruk?

So,,,jangan mendahului audiens. Jangan berpikir buruk tentang mereka. Jangan menganggab diri Anda kecil di hadapan mereka. Menilai diri harus berdasarkan pengalaman yang lalu.

(*akhirnya, saya sedikit memaksa Pak Yasir untuk tampil Kultum, padahal saat itu bukan gilirannya. Pak Yasir sempat menolak untuk menundanya 2 hari ke depan, namun saya tetap memaksanya... Anda penasaran apa yang terjadi...?Dengan keterpaksaan itulah beliau tampil memukau,,,luar biasa! Temen-temennya pun memberi applause... Saya pun tersenyum...!...)

Sukses buat Prajab Golongan III Angkatan IV tahun 2011 Kab. Sumbawa Barat-NTB

Rabu, 16 November 2011

Setali Tiga Uang
(Smile, Eye Contact, Blocking)
Oleh: Aan Widhi Atma



Pandangi sambil tersenyum
Dekati sambil menyapa
Lalu…perhatikan apa yang terjadi!

Kayaknya kalimat yang terakhir sering terdengar deh…(he…he...)

Sudah menjadi role of the game bahwa untuk mendapat perhatian yang baik dari Audiens maka seorang pembicara harus mendahulukan sikap Proaktif.  Tidak terlalu sulit, tetapi juga tidak sesederhana prakteknya. Banyak pembicara yang mengabaikan hal ini sehingga menghilangkan kesempatan meraih hati Audiens.

Smile
Anda harus melempar senyum dahulu kepada Audiens. Pernah memperhatikan sosok Andi Malarangeng? Perhatikan seni bicaranya saat diwawancarai pers, diskusi di Talk Show, hingga memberi laporan yang sifatnya genting saat menjabat sebagai Juru Bicara Kepresidenan. Selain kumis, ada satu ciri khas Andi yang sulit dilupakan. Apa itu? Ya, tentu saja, kekuatan senyumnya membuat setiap yang melihat dan mendengar informasi darinya menjadi nyaman dan tidak tegang. Serta, kehadiran kumis lebatnya pun menjadikannya terlihat manis. Ingat! Bagi Anda yang berkumis tebal seringlah tersenyum saat menyampaikan materi. Berikut tips senyum untuk Anda:
}  Seringlah melihat senyum Anda di cermin.
Ini penting untuk mengukur apakah senyum Anda sudah manis terlihat atau sebaliknya.
}  Senyum yang baik adalah rata kiri dan kanan.
Perhatikan apakah senyum anda sudah simetris?  
}  Saat memulai forum, lemparkan senyum Anda ke Audiens, dan perhatikan, pasti audiens membalas senyum Anda !

Eye Contact
 Berhati-hatilah karena pandangan mata mewakili kejujuran hati dan salah satu cara mendeteksi kebohongan adalah dengan gerakan mata. Saya sering merasakan saat menyampaikan materi yang kurang saya pahami maka ada gerakan mata ke arah kanan atas yang menandakan otak saya sedang mencari database informasi tersebut. Berikut tips eye contact saat memulai berbicara:
}  Hindari menatap INTIM kepada audiens.
Silakan nonton sinetron Indonesia, maka Anda akan tahu bagaimana menatap intim tersebut.
}  Hindari melihat satu bagian tubuh saja.
Ini penting, agar audiens yang Anda lihat tidak merasa risih atau curiga. Coba bayangkan jika Anda yang dipandangi teling saja, hidung saja, rambut saja oleh orang lain, risih bukan?
}  Tataplah tiap audiens dengan senyum maksimal 2 detik, jangan lama-lama kemudian berganti ke audiens yang lain.
Perpaduan senyum sambil memandang merupakan awal yang baik untuk menguasai panggung.

 Blocking
            Berjalan mendekati Audiens adalah cara untuk mengakrabkan diri serta membuka pintu interaksi seluas mungkin. Kalau Anda penggemar acara Mario Teguh Golden Ways di Metro TV, perhatikan Blocking Skill  Pak Mario yang sangat variatif. Dia berjalan mengelilingi arena seminar, sesekali mendekati audiens hingga sampai menyentuh pundak mereka dan bertanya langsung face to face, heart to heart, lalu perhatikan apa yang terjadi…!  
    Menguasai Panggung
Oleh: Aan Widhi Atma


Jika anda sudah naik panggung maka
jangan pernah sekali-kali terpikir untuk turun panggung.
 Lanjutkan saja apapun kondisi hati, pikiran dan body Anda saat itu!


Judul ini agak sedikit narsis, terkesan sombong tapi biarlah dari pada harus turun panggung (he…he...)

Panggung adalah wilayah yang menjadi hak seorang pembicara. Panggung adalah area kekuasaan Anda. Anda dibolehkan melakukan apapun untuk memikat audiens. Pilihannya cuman 2 ! Menguasai atau dikuasai panggung. Kalau Anda menguasai panggung di awal sesi maka 90% keberhasilan sudah di tangan tetapi kalau sebaliknya, panggung yang mendikte diri Anda maka berhati-hatilah gejala demam panggung akan terus mengikuti Anda.
Jikalau Anda di panggung tiba-tiba sangat gugup, lupa kata-kata, gemetaran tiada henti, coba tenang sebentar – tarik nafas dalam-dalam dan lanjutkan kembali walaupun dengan kalimat yang tak tersusun rapi, alur yang gak nyambung, vocal tanpa intonasi, yang penting kuncinya “JANGAN PERNAH TURUN PANGGUNG!”.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa menguasai panggung?

Anda harus nyaman dengan tempat Anda berbicara
Bersyukur sekali jika kita bisa datang ke lokasi sebelum acara berlangsung. Anda bisa berdiri ditengah podium, mengelilingi bangku-bangku peserta, mengukur seberapa kuat teriakan Anda hingga mengecek sound system yang ada.
Namun, kalau tidak ada waktu, maka segera kontak panitia dan minta mereka untuk menceritakan secara detail tentang lokasinya, jumlah peserta, background audiens, dll. Dengan demikian Anda sudah bisa memvisualisasikan kondisinya tanpa harus melihatnya langsung.

Anda harus nyaman berada ditengah-tengah Audiens
Mulai sekarang, Anda harus mengakrabkan diri dengan segala jenis wajah apapun. Mengapa tolok ukurnya wajah? Kerap kali suasana hati kita dipengaruhi oleh wajah audiens. Saya sering diresahkan dengan wajah peserta yang tidak pernah senyum sejak awal hingga pertengahan training, namun diakhir sesi dia yang paling antusias untuk berdiskusi. Ternyata pembawaan facenya memang begitu tidak bisa diubah. Harap maklum..he..he..

Audiens pun harus nyaman dengan kehadiran Anda.
Mungkin Anda pernah merasakan saat mengikuti training atau seminar, dikala pembicara memasuki ruangan, padahal belum sempat berbicara, kita sudah merasa nyaman terlebih dahulu? Mengapa bisa demikian? Saya beritahu rahasianya, pertama, pembicara tersebut sudah mengedifikasi dirinya dengan sempurna melalui brosur, iklan dan media publikasi lainnya, sehingga kita sudah terhipnotis duluan. Kedua, menyapa dengan senyuman tulus dan pakaian yang rapi (menggunakan jas dan dasi). Mengapa tampilan luar begitu penting? Karena itulah cara kita menghargai Audiens. Tidak mungkin di forum yang resmi kita memakai baju kaos lengkap dengan sandal pantai, atau memakai kaca mata hitam plus celana pendek. Oleh karena itu hargai forum tempat Anda berbicara. Senyum tulus juga berperan penting untuk menyapa lewat hati. Dengan cara itu,  Anda sudah menempatkan hati mereka pada posisi ueeeenak…