Tried It, Love It, and Make It Habits (Part 2)
(Motivasi Membangun Kebiasaan Menulis)
Oleh: Aan Widhi Atma
Mengutip apa yang disampaikan oleh Aristotle dalam buku 7 Habitsnya Stephen Covey “Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan”.
Luar biasa makna kalimat tersebut. Tidak heran jika Thomas Alfa Edison dikenang hingga saat ini, bukan karena penemuannya, tetapi karena kebiasaan bangkit dari kegagalannyalah yang patut diacungkan jempol. Jangan terkesima dengan tendangan bebas David Beckham yang dahsyat itu, hal itu dikarenakan kebiasaannya menendang bola ke dalam ban mobil yang digantungkan di tengah gawang.
Lain halnya dengan kebiasaan penulis-penulis hebat. Ambil contoh, JK Rowling, dia mengatakan “Saya menulis hampir setiap hari. Kadang saya menulis selama sepuluh atau sebelas jam. Pada hari lain, saya hanya menulis selama tiga jam.” Andrias Harefa dalam bukunya "Agar Menulis/Mengarang Bisa Gampang" mengharuskan dirinya untuk menulis setiap hari sebanyak 1 halaman folio. Aa Gym mengkhususkan waktunya beberapa jam setiap hari untuk menulis.
Pada kesempatan ini saya ingin mengajak Anda untuk membentuk kebiasaan menulis, yang dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana. Kebiasaan merupakan titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan (Stephen R. Covey, 1997). Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi untuk melakukan. Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus mempunyai ketiga hal ini.
Kebiasaan 1: Menuliskan apa yang Anda lihat, dengar, dan rasakan
Menulis merupakan ungkapan rasa syukur terhadap nikmat sehat yang diberikan oleh Allah swt kepada badan fisik kita. Cobalah lihat diri kita, mata bisa melihat dengan sempurna, telinga bisa mendengar dengan baik, dan hati bisa merasakan dengan jernih. Agar tulisan kita berbuah manfaat bagi orang lain maka gunakanlah nikmat tersebut untuk hal-hal yang baik pula.
Dalam teori dari mind mapping disebutkan bahwa apa yang kita tulis bersumber dari memori sensorik kita (Ingemar Svantesson, 2004). Ada beberapa macam memori:
Penglihatan - kita melihat apa yang kita lihat
Pendengaran - kita mengingat apa yang kita dengar
Kinestetik - kita mengingat gerakan dan perasaan
Persentuhan - kita mengingat apa yang kita sentuh dengan tangan
Pencicipan - kita mengingat kelezatan
Pembauan - kita mengingat bau harum dan bau busuk.
Sumber-sumber memori di atas merupakan bahan untuk tulisan yang tiada habisnya. Bayangkan, dalam satu hari saja kita melihat berbagai macam pernak-pernik kehidupan yang berbeda dari hari kemarin. Pertanyaannya, pernahkah kita mendokumentasikannya menjadi sebuah tulisan?
Mulailah menulis hal-hal yang dekat dengan diri Anda, kecil dan sederhana. Contoh, merangkum acara-acara televisi yang bermutu, film-film yang membangkitkan imajinasi dan motivasi, bahkan pertandingan yang menegangkan di lapangan.
Kebiasaan 2: Menuliskan apa yang Anda baca
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa menulis memerlukan seorang saudara yang siap membantunya. Saudara menulis itu bernama membaca. Dr. Stephen D. Krashen dalam Hernowo(2004) mengatakan, “hanya dengan memperkaya diri kita dengan sebanyak-banyaknya katalah maka “bahan” yang sudah kita miliki itu dapat kita ungkapkan dengan bahasa tulis yang kaya dan indah pula” . Terdapat 2 kategori orang dalam hal membaca dan menulis.
Pertama, orang yang senang membaca dan senang menulis. Tipe ini, sudah menjadikan membaca dan menulis sebagai kesenangannya atau dengan kata lain dia telah menemukan AMBAKnya (Apa Manfaatnya Bagiku). Dengan mengetahui manfaat dari kegiatan membaca dan menulis maka akan memunculkan motivasi yang kuat untuk terus melakukannya.
Kedua, orang yang senang membaca tetapi sulit menulis. Ciri khusus tipe ini adalah, memiliki literatur yang banyak, tetapi sulit menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Untuk diketahui bahwa menulis adalah pekerjaan hati bukan pikiran, semakin Anda memikirkan apa yang ditulis maka menulis menjadi hal yang sulit dalam benak Anda. Anda harus mengetahui teknik atau skill menulis, agar gampang memulainya. Kuncinya, segera mulai menggerakkan pena Anda di secarik kertas, tekan keyboard komputer Anda tanpa berpikir terlebih dahulu!
Apabila kita membaca teks, meskipun itu sebuah buku ataupun artikel pendek pada majalah, maka untuk membuat peta pembelajaran coba gunakan metode ini (Ingemar Svantesson, 2004):
Pertama, melihat sekilas keseluruhan teks dengan sangat cepat untuk mendapatkan ide dari isi teks tersebut. Gunakan stabilo atau berilah garis bawah ketika anda membaca sekilas (skimming) teks tersebut dan tandailah kata-kata yang menurut Anda merupakan kata-kata penting. Tidak menjadi masalah apakah nantinya Anda akan memakai kata tersebut atau tidak. Kedua, mempersiapkan peta pembelajaran dengan menggambar atau menulis masalah utama atau sepasang cabang pokok. Tulislah beberapa kata/sub bagian, satu kata masing-masing garis.
Ketiga, tentukan mengapa Anda membaca teks tersebut. Maksud Anda membaca itu penting karena membatasi jumlah kata dan kata-kata mana yang Anda ambil sebagai kata-kata kunci. Apakah Anda membaca demi kepuasan, untuk belajar membuat ringkasan, atau membuat laporan untuk orang lain, atau apa tujuan Anda? Bacalah terus seluruh teks dan tambahkanlah kata-kata kunci pada peta pembelajaran. Tulis kembali peta pembelajaran Anda, dan putuskan apa yang dipertahankan dan mana yang akan di buang. Gunakan hanya kata-kata yang Anda perlukan untuk mengingat isi bacaan/teks.
Andrias Harefa dalam bukunya “Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial” memberikan tips membaca buku dengan super cepat:
· Bacalah daftar isi dengan seksama
· Pilihlah sub judul yang paling menarik minat Anda dan bacalah bagian tersebut lebih dulu
· Bacalah bagian sebelah kiri dari setiap sub judul yang berisi kutipan, kata-kata hikmah, atau rangkuman ide utama sub judul yang bersangkutan. Bila Anda menjumpai hal yang belum jelas, bacalah seluruh artikel dalam subjudul tersebut.
· Tandai kata-kata yang menarik dengan stabilo atau beri garis bawah dengan pena warna-warni.
· Bacalah bagian-bagian sub judul yang kurang menarik minat Anda pada saat memiliki waktu senggang yang lebih panjang.
Kebiasaan 3: Membiasakan diri dengan Mind Mapping
Metode mind mapping akan mempermudah kita untuk mengatur dan mengelompokkan ide-ide yang muncul dari pikiran kita. Intinya adalah menuliskan segala sesuatu tentang sebuah objek dalam secarik kertas, tanpa dipikir benar salahnya, ada kaitannya atau tidak, biarkan hati, pikiran dan tangan Anda mewujudkan kata-kata tersebut. Coba Anda fokus pada satu objek, kemudian lakukan langkah di bawah ini untuk memulai membuat peta tulisan Anda!
- Tulis (atau gambarkan) satu obyek di tengah-tengah selembar kertas. Tariklah satu garis dari titik itu, sebanyak Anda perlukan jika Ada menulis kata-kata, masing-masing satu garis.
- Tulis semua kata yang muncul dari benak Anda, meskipun kata-kata yang Anda pikirkan itu aneh dan tidak berkaitan! Tidak usah dibuat teratur, tulis saja kata-kata itu secara acak.
- Tuliskan kata-kata sebanyak mungkin, untuk menangkapnya dalam arus asosiasi yang cepat yang berkembang di kepala Anda.
- Jangan menyensor atau memilih kata-kata tertentu saja! Kata-kata aneh bisa saja merupakan satu-satunya yang memberi Anda ide yang terbaik nantinya.
- Jangan khawatir tentang di mana Anda menulis kata-kata tersebut. Biarkan asosiasi Anda mengalir secara bebas di atas kertas.
- Buatlah sebuah garis untuk masing-masing kata baru dan tambahkan sebanyak mungkin, apa pun katanya atau sekalipun Anda menuliskan kata-kata yang mempunyai arti sama. Kata-kata itulah yang akan memberi Anda sejumlah kata-kata yang benar-benar baru.
- Jangan menyerah! Setiap ketrampilan akan diperoleh pada waktunya sendiri dan memang butuh proses.
Perenungan Akhir
Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.
(Ali Bin Abi Thalib)
Anda sedang menulis skenario yang tidak mungkin ditulis oleh orang lain. Sebuah cerita yang berkobar dalam diri Anda adalah skenario yang “komersial”. Anda tidak menjadi penulis kelas dua di bawah siapa pun. Anda menjadi yang terbaik bagi diri Anda sendiri. Anda memiliki satu hal yang layak jual sebagai seorang penulis-sudut pandang Anda. Sudut pandang Anda adalah sebuah cara unik untuk melihat dunia berdasarkan pengalaman Anda dan bagaimana Anda merasakan dunia seputar Anda.
(Viki King)
Menulislah dengan alasan apapun asal bukan untuk meremehkan
(Stephen King)
Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca
(Dr. Stephen D. Krashen)
Referensi
Andrias Harefa (2001), Menata Karier Menuju Kebebasan Finansial, Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Hernowo (2004), Quantum Writing, Mizan Learning Center, Bandung
Hernowo (2005), Mengikat Makna Sehari-hari, Mizan Learning Center, Bandung
Ingemar Svantesson (2004), Learning Maps and Memory Skills, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Lewis & Harlow, E-Mind Maps, e-Learning Trainer & Developer Centre of Education Technology UCOL, Instructional Designer Centre for Learning Technologies Wintec
Stephen R. Covey (1997), Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif, Binarupa Aksara, Jakarta Barat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar